Pemuda Oncone Raya Tanam 2.600 Mangrove untuk Lindungi Pesisir dari Abrasi

 



Parigi Moutong, Sulawesi Tengah - Kelompok Pemuda Peduli Mangrove Desa Oncone Raya atau P2MO menanam 2.600 bibit mangrove di kawasan pesisir Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Minggu (17/5/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana pesisir dan penguatan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Penanaman mangrove itu menyasar sejumlah titik pesisir yang dinilai rawan abrasi. Selain menjadi benteng alami dari gelombang laut dan rob, mangrove juga memiliki fungsi ekologis penting sebagai habitat biota laut serta penyerap karbon.

Ketua P2MO, Moh Safi’i atau Ari, mengatakan gerakan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap kelestarian lingkungan pesisir. Menurutnya, masyarakat pesisir semakin membutuhkan perlindungan ekologis karena ancaman abrasi, kenaikan muka air laut, dan cuaca ekstrem kian terasa.

“Sebelumnya kami telah menanam 5.100 mangrove pada Hari Mangrove Sedunia 2025. Kami akan terus melakukan penanaman hingga mencapai 20 ribu mangrove di lahan seluas tiga hektare,” kata Ari, dikutip dari ANTARA.

Ari menegaskan, penanaman mangrove tidak hanya dipahami sebagai kegiatan penghijauan, melainkan sebagai investasi ekologis jangka panjang. Ia menilai keberadaan mangrove dapat memberi manfaat ganda, baik bagi keselamatan lingkungan maupun keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

“Menanam mangrove bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menanam harapan bagi masa depan yang lebih aman dan lestari untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Sejak 2025, P2MO tercatat telah menanam total 7.700 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Oncone Raya. Gerakan tersebut diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih aktif menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Direktur Relawan untuk Orang dan Alam atau ROA, Mochammad Subarkah, mengatakan pihaknya akan mendampingi P2MO selama dua tahun ke depan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk mendukung program SOLUSI Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu.

Program SOLUSI merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan BMUKN-IKI, GIZ Indonesia & ASEAN, Yayasan KEHATI, CIFOR-ICRAF, dan SNV. Program ini diarahkan untuk memperkuat pengelolaan lanskap darat dan laut secara terpadu di Indonesia.

Subarkah berharap semakin banyak pihak terlibat dalam rehabilitasi mangrove, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat sipil, hingga komunitas warga. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar upaya pemulihan ekosistem pesisir tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi gerakan lingkungan yang berdampak nyata.

“Melalui program ini kami ingin memperkuat kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam pengelolaan kawasan pesisir melalui rehabilitasi mangrove, perhutanan sosial, dan penguatan ekonomi berbasis lanskap,” katanya.

Aksi penanaman mangrove di Oncone Raya menjadi contoh keterlibatan pemuda dalam menghadapi krisis iklim dari tingkat desa. Di tengah meningkatnya kerentanan wilayah pesisir, gerakan semacam ini menjadi langkah konkret untuk membangun perlindungan ekologis sekaligus memperkuat kesadaran kolektif menjaga lingkungan.

 

Comments

Popular posts from this blog

Libur Panjang Dongkrak Kunjungan Wisatawan ke Bromo

Insiden Marquez–Acosta Picu Red Flag di MotoGP Catalunya 2026

Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H pada 27 Mei 2026